Senyum, Salam, Telolet

Pada suatu hari, saya dan istri saya berangkat bekerja, waktu itu jam menunjukkan seperti biasa, maksudnya ya setengah tujuh pagi saya berangkat kantor, tapi entah kenapa matahari sudah agak tinggi sehingga pagi itu sudah terang sekali. Hal ini memberikan efek psikologis kalau ini sudah terlalu siang dan kami akan terlambat.

Keluar dari jalanan komplek dan masuk jalan raya, kami mendapati  jalanan sudah penuh sesak, belum macet tapi ramai lancar, para pengendara motor sudah salip-menyalip dan terdengar banyak bunyi klakson dari mobil-mobil yang disalip sembarangan. Rupanya bukan cuma kami saja yang kemrungusung takut terlambat.

Saya sudah mebayangkan bahwa tiga ratus meter ke depan, kami akan melewati jalanan depan sekolah SD, yang mana di situ akan terjadi penyempitan jalan yang disebabkan oleh para macan ternak (Mama cantik anter anak) yang belok dan menyeberang sembarangan lalu memarkir motornya di pinggir jalan berjejeran dengan para penjual cilok dan sempolan.

Benar sekali, dari jauh sudah kelihatan jalanan mulai macet, ditambah dengan adanya sebuah bus AKAP ukuran besar. Untuk diketahui, jalanan ini bukan jalur utama luar kota, jadi kalau ada bus atau truk besar satu saja, pasti akan sangat berpengaruh pada kelancaran jalan. Terlebih di pagi atau sore hari. Semua orang semakin segera terburu-buru untuk lepas dari kemacetan ini.

Saya juga mencoba merapat, mencari celah, belok kanan kiri masuk di sela-sela mobil dan motor, akhirnya saya berhasil sejajar dengan bus tadi tepat di depan sekolah. Kami sempat mengerem mendadak dan ciiit,,,,, akhirnya kami bisa berhenti. Lalu seorang ibu melenggang kangkung dengan motor maticnya menyeberang jalan, si anak yang ada di boncengannya tiba-tiba berteriak “Om telolet oooom”.

Mendengar itu, waktu seolah berhenti, mobil dan motor tak berbunyi, angin tak bertiup, jam tangan mati, kala ada oli bocorpun kayaknya ga jadi, Tes,,, ee naik lagi. Semua seperti menunggu, apakah pak sopir bus akan membunyikan klakson mautnya. Tek tek tek, jam tangan saya mulai bergerak lagi, orang-orang mulai sadar dan… Telolet telolettt, pak sopir memencetnya.

Cesssss,,,, tidak hanya anak kecil peminta-minta telolet saja yang menjadi tenang, kami semua juga turut senang. Hati gembira riang. Tiba-tiba semua orang gak jadi mau pindah ke Meikarta, karena jalanan tiba-tiba menjadi lancar

Di sisa perjalanan menuju kantor, saya jadi berpikir, kok bahagia bisa sesederhana itu ya? Sesederhana ada orang yang senyum lalu diikuti senyum yang lainnya, sesederhana orang member salam dan sapa  lalu dibalas hal yang sama, sesederhana anak kecil meminta telolet lalu dijawab telolet oleh  pak driver bisnya. Bahagia itu sederhana.

Bayangkan kalau sampai si anak tadi gak diberi telolet, pasti moodnya akan rusak seharian nanti. Mau belajar gak masuk-masuk ilmunya, mau main juga gak enak, mau jajan cilok jadi rasa sempolan, mau makan sempolan eh jatuh. Pokoknya pak sopir tadi sungguh jadi pahlawan, dia tak banyak mengeluarkan effort, hanya mencet tombol-tombol, tapi bisa memberikan dampak yang begitu banyak.

Saya tidak hendak memberikan amanat atau pesan moral yang muluk-muluk dari cerita ini, saya hanya bercerita kalau saya baru saja memperoleh perspektif lain dari dahsayatnya senyum salam sapa dan telolet. Kecil yang kita perbuat, namun sungguh besar manfaatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *