Fokus Gak Fokus?

Beberapa waktu lalu saya menonton sebuah tayangan youtube yang menayangkan wawancara Jaya Suprana dan Danny Septriadi. Nama pertama adalah pemrakarsa berdirinya Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), mewawancarai seorang Denny Septriadi, tentu bapak-bapak ibu-ibu juga familiar dengan nama kedua ini? Beliau adalah salah satu pendiri Danny Darussalam Tax Center (DDTC), dan pakar transfer pricing serta pajak internasional.

Danny Septriadi diwawancara oleh Jaya Suprana, karena pada September 2017 beliau mendirikan perpustakaan pertama dan terbsesar di Indonesia yang berisi buku-buku tentang … pajak? Bukan, karena perpusatakaan pajak terbesar itu dimiliki oleh DDTC, sedangkan yang diprakarsai secara pribadi oleh Danny Septriadi adalah perpusatakaan humor. Perpustakaan ini berisi sekitar 1500 buku dan DVD tentang humor dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bahkan lebih jauh lagi, perpustakaan tersebut telah menjelma menjadi Institu Humor Indonesia Kini, disingkat IHIK3, dibaca ihik ihik ihik. Boleh sambil menahan senyum atau ketawa ngikik.

Ketika ditanya oleh Jaya Suprana, kenapa orang yang sehari-hari berkecimpung di dunia perpajakan, kok bisa-bisanya membuat seuatu yang tidak nyambung, beliau menjawab bahwa karena beliau memang suka membaca buku tentang humor dari sejak kecil, dan akhirnya bisa mengumpulkan banyak buku tersebut. Katanya, humor bisa sangat membantu pekerjaan utama beliau sebagai praktisi dan akademisi pajak, misalkan sedang mengajar tentang pajak, beliau bisa menyisipkan humor “belajar pajak itu tidak sulit, yang sulit adalah membayarnya”, sehingga suasana belajar tidak menjadi kaku, juga bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan wajib pajak, bahkan dengan pegawai pajak sehingga suasana pembahasan menjadi lebih cair.

Kenapa beliau sampai mendirikan perpustakaan humor? Dulu beliau berpendapat bahwa “knowledge is power, pengetahuan adalah kekuasaan, termasuk pengetahuan tentang humor ini. Sampai pada suatu ketika pandangan beliau berubah menjadi sharing the knowledge is power sehingga dia memutuskan untuk membuka perpusatakaan humor secara gratis, bagi siapa saja yang mau datang membaca. Menurut Jaya Suprana, pemikiran Denny Septriadi ini melebihi para filsuf, bahkan dapat disebut sebagai nabi humor.

Apa yang bisa kita ambil dari cerita ini, adalah bahwa kita semua sebenernya bisa punya fokus pada lebih dari satu bidang dan bisa punya nilai manfaat di masing-masing bidang tersebut.

Akan lebih baik jika satu bidang lain di luar pekerjaan utama ini dapat mendukung pekerjaan kita, atau paling tidak bidang tersebut tidak menimbulkan bias kepentingan sehingga integritas dan profesionalisme kita di Direktorat Jenderal Pajak tetap terjaga.

Di sini juga sudah ada contohnya, antara lain Pak Wahyudi, selain bekerja di KPP, beliau juga bisa fokus di bidang tahu bakso. Karena menurut Pak Wahyudi, tahu bakso is power. Kita tunggu beliau naik kelas dan punya pandangan bahwa Sharing Tahu Bakso is power sehingga kita bisa makan tahu bakso setiap hari secara gratis.

Demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *