Paniai Yang Jauh, Enaro Yang Dingin

lanskap

Pagi itu sedikit gerimis. Kami cemas apakah akan mendapat penerbangan atau tidak. Ya, kami serombongan sudah berada di Bandara Mozes Kilangin, bermaksud akan menumpang pesawat kecil menuju kabupaten tetangga. Memang beginilah di Papua, kadang hanya untuk pergi ke kecamatan sebelah saja harus dengan pesawat, terlebih lagi jika ingin ke kabupaten lain atau ke ibu kota propinsi sana.

Lebih cemas lagi karena kami belum memegang tiket. Sebenarnya tidak sungguh-sungguh go show,  kami sudah memesan tiket  pada salah seorang petugas maskapai yang sudah kami hubungi sebelumnya. tapi ini bulan Desember, peak season, saatnya penumpang berebut mendapat tempat duduk yang terbatas. Bahkan saking ramainya permintaan akan kebutuhan penerbangan menjelang natal ini, ada program khusus bernama christmas flight untuk memberi kemudahan bagi masyarakat agar bisa merayakan natal di kampung halaman. Program ini menyita terminal di bandara perintis, menjadikan kami, penumpang reguler, harus menyingkir ke terminal sementara di dekat landas pacu, hanya beratapkan tenda. Cuaca yang tak kunjung cerah ini kami menjadi semakin ragu.

Ini ketiga kalinya saya ke sana, selalu dalam rangka pekerjaan. Siapa juga orang kantor saya yg mau ke Kabupaten Paniai kalau tidak punya kepentingan berupa melaksanakan tugas. Tapi lalu saya sadar, bahwa kepentingan itu tak melulu tuntutan pekerjaan. Di sana ada danau, tak tangung-tanggung jumlahnya, tiga. Saya kutip dari wikipedia, bahwa Danau Paniai adalah sebuah danau yang terletak di Kabupaten Paniai, Papua atau secara administratif terletak di distrik Paniai Timur. Kesohor memiliki panorama alam yang rancak, alami, dan terawat dengan baik. Keindahan Danau Paniai diakui oleh utusan dari 157 negara ketika berlangsungnya Konferensi Danau Se-Dunia yang dihelat di India pada tanggal 30 November 2007. Pada awalnya, Danau Paniai beserta Danau Tigi dan Danau Tage dinamakan Wissel Meeren. Penamaan ini dinisbatkan kepada orang yang pertama kali menemukan ketiga danau cantik tersebut pada tahun 1938, yaitu seorang pilot berkebangsaan Belanda bernama Wissel. Pada saat itu, Wissel terbang melintasi pegunungan Papua dan melihat tiga danau yang memiliki pemandangan yang indah. Karena terpesona dengan keindahannya, Wissel memutuskan untuk mendarat dan menikmati eksotisme ketiga danau tersebut dari dekat. Bahkan, pada masa kolonial Belanda, nama Wissel Meeren lebih populer ketimbang Paniai. Wissel Meeren berasal dari bahasa Belanda yang memiliki arti danau-danau Wissel.

Mengingat keterangan tentang Danau Paniai di atas, bagaimana kalau kepentingan pekerjaan itu saya geser menjadi sebuah kepentingan lain bernama liburan. Orang Indonesia mana yang kepikiran untuk liburan di tempat seperti ini, ketika informasi tak banyak diungkap di media, ketika fasilitas menuju tempat ini belum memadai, atau ketika liburan di dalam negeri ternyata jauh lebih mahal daripada ke Singapura, Malaysia, dan Thailand. Tentu ada, tapi mungkin tidak terlalu mainstream dibandingkan dengan destinasi wisata lain di papua seperti Asmat dan Raja Ampat. Saya cukup bodoh, di dua perjalanan yg lalu, tak sedikitpun menjelajah daerah itu. Pertama karena saya sangat pemalu (baca penakut). Saya punya minat, tapi kalau tak berkawan, minat itu hanya menjadi niat. Apa daya jika saya ingin jalan-jalan, tapi rekan seperjalanan hanya ingin kerja lalu selebihnya hanya berdiam istirahat di penginapan. Saya lalu mencari pembelaan diri, inilah alasan saya yang kedua, karena ini daerah asing, baik tempatnya maupun orangnya. Terlebih lagi, sudah banyak yang bercerita dan juga menyarankan bahwa jangan sembarangan jalan-jalan di sana. Lagi-lagi alasan kemananlah yang mendasarinya. Saya berharap, pada kunjungan saya yang ketiga ini, saya bisa menjadikan minat saya menjadi niat yg teguh lalu merealisasikannya dengan sungguh nyata. Toh saya sudah punya data awal tentang tiga danau indah di atas. Kita buktikan saja.

Akhirnya kami dipanggil untuk boarding, kami diangkut bergantian menggunakan sebuah minibus menuju dekat landasan. Ditengah perjalanan dengan mobil ini kami berpapasan dengan sebuah truk besar, salah seorang penumpang barkata bahwa truk itu mengangkut kepiting. Kepiting Timika atau yang biasa juga disebut dengan Karaka, memang terkenal dengan ukurannya yang cukup raksasa. Kulitnya yang tebal dan keras, membungkus daging yang juga tebal nan gurih. Mereka akan diangkut ke Denpasar dan Jakarta, namun bisa juga mereka hanya akan transit sebentar untuk kemudian diterbangkan lagi hingga akhirnya akan terhidang di meja makan di restoran di Singapura sana.

*****

Akhirnya pesawat kecil kami terbang juga. Saya menghitung kursi penumpang, delapan belas jumlahnya. Kali ini pilotnya bukan bule WNA, mungkin saja maskapai Johnlin Air ini memang tidak mempekerjakan pilot asing seperti Susi Air. Sedikit seloroh pilot menyambut para penumpang, katanya yang duduk di depan siap-siap untuk sampai di Enarotali lebih cepat. Hahaha, dan senyum kecut dari para penumpangpun sedikit memberi kesegaran ditengah mual yang mulai datang karena bau yang campur aduk ini. Semuanya bercampur antara bau keringat, bau apek karena baju basah kehujanan dan juga amis ikan laut yang dirindukan orang gunung. Begitulah penerbangan perintis ke pelosok negeri, apa yang bisa dibawa maka akan terbang bersama kami.

Pesawat kami melintas di atas permadani nan hijau, pegunungan tengah papua tampak biru di kejauhan, menyembul tangguh diatas putihnya awan. Kesanalah tujuan kami, Enarotali, Ibukota Kabupaten Paniai. Paniai memiliki potensi pariwisata yang menawarkan keindahan alam, yaitu Danau Paniai, serta Danau Tigi dan Danau Tage yang sekarang masuk ke wilayah pemekaran baru kabupaten Deiyai. Potensi-potensi inilah yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun, hingga kini arus wisatawan ke Kabupaten Paniai masih terbatas, ini dikarenakan sarana transportasi untuk menuju objek-objek wisata tersebut belum memadai.

Saya selalu takjub dgn keindahan Papua pada umumnya, terlebih kalau berkesempatan menikmatinya dari udara. Dengan pesawat besar, misalkan untuk tujuan Jayapura, Sorong dan Manokwari yang pernah saya lalui, saat take off dan landing selalu sakral bagi saya. Jika hati tak mampu memiliki, maka biarkan saya untuk sekedar memandangnya. Namun, saya selalu berharap, semoga Papua akan selalu manjadi milik kita, milik bangsa Indonesia. Kali ini tak hanya take off dan landing, seluruh perjalanan menjadi sangat suci, tak sedikitpun mata saya boleh berpaling dari jendela. Takjub.

Terlihat danau itu semakin dekat, tersambung dgn hamparan hijau datar terbelah kanal-kanal. Sekilas itu tampak seperti tanah lapang penuh rerumputan. Makin dekat mendarat, makin tampak perahu-perahu kecil diantara kanal-kanalnya. Itu rawa. Warga lokal sedang memanen ikan dan udang.

Tet teet teeet…. Suara klakson pesawat memecah kekhusyukan takjubku. Dengan sedikit bergoyang, pesawat ini mendarat dengan selamat. Tuhan berkati, Tuhan berkati, ucap syukur dari seorang mama papua di sebelah saya. Masih seperti setahun dua tahun lalu, pinggiran landasan ini ramai dipenuhi warga. Saya tak yakin mereka menunggu pesawat untuk ikut terbang, ah… mungkin mereka menyambut, bahagia atas kedatangan kami. Ah bukan, siapalah kami ini.

*****

Jarak dari bandara Enaorotali menuju penginapan tidak jauh, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Beberapa orang berramai-ramai tadi ada yang siap membantu membawakan barang-barang bawaan kita, tentunya dengan rupiah sebagai imbalan jasa. Sepanjang yang saya tahu, di Kabupaten Paniai hanya ada dua penginapan, lebih spesifik lagi bahwa dua penginapan tersebut berada di distrik Enarotali di dekat bandara ini. Penginapan ini menjadi langganan para tamu-tamu dari daerah lain, mulai dari penumpang pesawat yang sekedar transit, para pebisnis tambang, konstruksi sampai pejabat pemerintah. Bahkan tamu untuk kabupaten Deiyai, yang jaraknya satu jam perjalanan darat dari sini pun, mereka menginap di dua penginapan ini.

Pemilik penginapan adalah warga pendatang dari jawa, mereka sudah cukup lama di sini, bisa dikatakan mereka termasuk generasi pertama yang ikut membuka keramaian. Secara umum, pendatang dari luar bisa dibagi ke dalam tiga kelompok besar, mereka adalah warga asli Jawa, Bugis dan Makassar, serta ada juga warga Batak, Toraja, Manado dan lain-lainnya yang tidak begitu banyak. Warga putra daerah dan warga pendatang hidup berdampingan, keharmonisan sudah terbangun walaupun kadang masih ada juga sedikit suasana yang menghangat.

*****

Sungguh banyak babi berkeliaran di jalanan kota ini, dari yg ukuran masih anak-anak sampai ukuran indukan berputing banyak. Sesekali mereka bersitegang dengan anjing di halaman depan rumah yang dilewatinya, yang bak sampahnya dikorek-korek olehnya. Ketika itu seekor anak babi mendekati anjing yang sedang tiduran dengan rasa penasaran, namanya juga anak-anak. Merasa diganggu, anjing mengejar balik. Anak babi lari terbirit-birit mendekati sang induk, yang kemudian sang indukpun pasang badan. Menguik dan mengonggong. Ramai sekali. Tak ada lagi tontonan yg lebih mengasikkan daripada ini. Bagi saya yang orang luar, di kota kecil ini arus informasi dan hiburan terbatas hanya pada siaran televisi yang harus ditangkap dengan parabola. Koran ibu kota tidak beredar, sedang koran lokalpun belum ada yang menerbitkan. Radio FM sepertinya juga tak ada yang tersangkut di aplikasi radio di HP saya. Masih mengamati babi yg menguik dan anjing mengonggong, mereka hanya adu gertak beberapa lama, lalu keluarga babipun mengalah lari ke semak-semak.

Seperti di daerah lain di papua, babi merupakan sajian yg harus ada di setiap upacara adat. Kebutuhan masyarakat akan babi ini sangat tinggi, menjadikan harganya juga tinggi. Dalam perjalanan blusukan menuju pasar, saya berbincang kepada seorang rekan kerja selama di sini, dia seorang putra daerah. Saya bertanya mengenai mengapa harga babi tetap mahal, sementara yang saya lihat kasat mata, persediaan mereka cukup banyak, hidupnya pun sepertinya gampang. Kenapakah juga itu tidak dijadikan peluang oleh masyarakat untuk menaikkan taraf hidupnya dgn beternak babi. Dia menjawab, memang beginilah adanya. Masyarakat asli memang punya babi, tapi hanya beberapa. Tidak seperti masayarakat pendatang dari Batak dan Toraja yang secara khusus menernakannya.

Berbicara masalah babi lagi, kawan tadi menyambung bahwa orang sini gengsinya tinggi. Katanya seperti ini, “Bahwa kami ini bisa saja kerja satu tahun hanya untuk makan satu hari. Contohnya saat musim Natal seperti ini, jika tetangga mengeluarkan kurban satu babi, maka saya gengsi jika tidak kurban juga. Kenapa sampai ekstrim saya katakan kerja setahun buat makan satu hari, ya karena babi mahal apalagi di bulan desember begini. Memang kalau dilihat saja, mencari uang di sini lumayan gampang, uang lima ribupun hampir tak ada artinya di sini. Berarti mereka kaya-kaya? Tidak juga. Begini ade, uang itu sama saja dengan daerah lainnya. Di sini uang besar, tapi kebutuhan juga besar. Kemarin siang kau makan apa? Nasi ikan to? Itu berapa? 40 ribu. Bolehlah kau bilang itu beli, pasti kalau masak sendiri bisa lebih murah. Iya memang begitu, tapi skedar saya kasih tau, di rumah saya itu ada lima orang dan saya kasih uang utk istri buat belanja makan saja minimal 250 ribu setiap hari. Ini saya pegawai, coba kau liat bapak itu, dia kerja bertani, cangkul-cangkul ubi, tapi kebutuhan makan sama kaya kita juga to? Lalu mereka harus pintar-pintar sisihkan uang lagi untuk kurban babi.”

“Ya kaka, saya mengerti.” Jawabku sambil mengangguk-angguk.

*****

Kemarin, di sela-sela obrolan setelah makan siang, kami ditawari oleh pemilik warung langganan untuk makan siang besok dengan menu udang selingkuh. Dia akan sengaja memasakkannya sepsial  untuk kami. Orang mana yang akan tega menolak tawaran tulus darinya, terlebih lagi saya yang telah membayangkan bagaimana bentuk hasil perselingkuhan antara udang dan kepiting itu terhidang panas-panas di meja kami. Begitulah kata orang, udang selingkuh dinamai demikian karena bentuk uniknya, berwujud udang, namun memiliki cangkang dan capit seperti kepiting. Binatang ini merupakan hasil kekayaan khas Danau Paniai, namun dia juga bisa ditemukan di wilayah lain di Papua, seperti di Wamena misalnya.

Hari ini sungguh sempurna, kami menyelesaikan tugas lebih awal dari perkiraan, lalu kami menutupnya dengan makan siang yang sedikit kesorean dengan semangkuk besar udang selingkuh bumbu kuah pedas. Agak sulit memang memecahkan cangkangnya, tapi berbalas dengan kenikmatan dagingnya.

Selain bisa menyantapnya langsung di beberapa warung makan, kita juga dapat membawa udang selingkuh ini dalam bentuk masih mentah, bahkan hidup. Kita bisa membelinya di pasar setempat setiap pagi.

*****

Sore yang cerah, sebelum besoknya saya harus kembali ke Kota Timika, kami telah di atas bukit. Dari sana tampak danau yang luas, matahari sudah condong ke barat, masih ada satu dua perahu yang melintas menuju kampung di seberang. Kilat-kilat air memantulkan silau, aku berpaling ke sisi bukit yang lain. Inilah yang mereka sebut ibu kota kabupaten, tampak penginapanku dengan jelas di kejauhan sana. Itu jalan pasar tempat aku berdesak-desakan tadi siang. Itu kantor bank yang kemarin aku kunjungi untuk sekedar iseng ke anjungan tunainya. Ada masjid yang begitu damai tegak berdiri diantara gereja-gereja. Itu jalan menanjak menuju luar kota. Ah, memang beginilah yang saya sukai, memandang segala sesuatunya dari sudut pandang yang lebih luas akan membantu membebaskan kita dari keruwetan tetek bengeknya masalah kehidupan.

Sehingga keesokan paginya kami harus pulang, saya menitipkan tanya pada danau dan pada bukit. Apakah saya boleh kembali ke sini lagi? Saat ini mereka tak menjawab. Mungkin sungkan untuk berkata jujur bahwa kedatangan kami tak merubah apapun.

********************************

danau2

paniai1aku1

ojek

pesawat ke paniaiSewaktu pulang, pesawat tidak terlalu penuh.pesawat2

5 thoughts on “Paniai Yang Jauh, Enaro Yang Dingin”

  1. Terima kasih bang Raidus atas kunjungannya. hehehe.
    Kemarin saya ke Intanjaya malah, lewat atasnya Enaro dan mual karena turbulensi. Dan di sana lbh dingiiiin. Org sana pada nanyain elu, bang.

    Anw kaos yg itu gw simpen di mana ya…. lupa.

  2. saya tertarik untuk mengunjungi Danau Paniai yang konon kabarnya danau tercantik di dunia, kalau boleh, saya ingin mengetahui cara menuju kesana melalui Jakarta..
    Terima Kasih

  3. Sodara Adiansyah, untuk datang ke Paniai, dari Jakarta dapat menggunakan penerbangan Garuda/ Sriwijaya ke bandara Mozes Kilangin di Timika. Lalu dari Timika, harus terbang lagi menggunakan pesawat kecil, tiket bisa diperoleh di bandara mozes kilangin.
    Atau dapat juga dari jakarta menuju Nabire (yang ini saya kurang paham dengan pesawat apa dan transit di mana saja), lalu dari Nabire dapat menggunakan pesawat kecil juga atau melalui jalan darat ke Paniai. Demikian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *