“Siang Itu…”

Pukul satu siang itu, udara kota ini sungguh panas luar biasa. Matahari sudah condong ke barat, namun derajat kemiringannya tidak terlalu signifikan untuk menggelincirkannya ke balik gunung. Jalanan tampak mengeluarkan bayang-bayang asap seperti sedang menguapkan aspalnya. Lengang. Sesekali melintas mobil dengan kecepatan tinggi. Kadang pula lewat motor ojek yang pengemudinya menolah-noleh kanan-kiri menyelusupkan matanya ke lorong-lorong gang mencari penumpang.
Nihil, semua orang sedang berteduh di rumahnya, dibuai dinginnya penyejuk ruangan yang diatur pada suhu serendah mungkin. Atau bagi masyarakat lain yang berkeberatan membayar iuran listrik bulanan, cukuplah hanya ditemani kipas angin yang berputar-putar bergeleng-geleng dengan suara berisik yang mengganggu. Suara dengung yang lama-lama menjadi senandung nina bobo pengantar menuju mimpi majikan di tengah hari.

Ada yang salah dengan hari ini, matahari terlalu terik menyinari. Entah kemana pula mendung-mendung yang biasanya memayungi. Walaupun aku juga sudah bisa menebak, bahwa mereka pasti akan datang sore nanti. Sejak beberapa tahun lalu aku menginjakkan kaki di kota ini, polanya memang begitu. Jika siang hari ini panas terik, sore nanti atau paling telat malam nanti, hujan pasti turun dengan derasnya. Teori bodohku ini rupanya tak terlalu buruk. Aku pernah membaca sebuah berita di koran lokal yang  menyebutkan bahwa kota ini memang tak mengenal musim penghujan maupun kemarau. Jadi, kalau panas ya panas saja, lalu jika tiba-tiba mau hujan, ya monggo terserah. Itu di luar kewenangan badan meteorologi, klimatologi dan geofisika. Pernah juga aku ikut menengok peta di internet sebelum handphone cinaku yang agak canggih itu hilang, bahwa kota ini tak terlihat lebih besar daripada area hutan yang terpaksa tergunduli menjadi area pembuangan limbah tambang itu. Wajarlah kalau cuaca menjadi tak jelas seperti ini. Continue reading ““Siang Itu…””