Tentang Timika Empat Tahun Ini

Ngomong-ngomong tentang Timika, itu besar kaitannya dengan tempat saya bekerja. Ngomong masalah kerja dan tempatnya, dua hal itu berjodoh dalam satu hal bernama mutasi a.k.a. pindah tugas. Misalnya dulu tugas di Jawa, lalu mutasi ke Timika, lalu sekarang balik Jawa lagi. Walaupun kenyataannya tidak secepat kalau diucapkan seperti itu sih. Harusnya begini, dari Jawa, lalu ke Timika, lalu (berhenti ngomong sampai empat tahun) balik ke jawa lagi.

Saya pernah diceritain, oleh salah satu pegawai di kantor sini juga, tapi beliau sekarang sudah pindah, kembali mutasi ke jawa. Jadi, katanya beliau ini dulu pertama ke luar jawa ya ke Timika ini, naik pesawat juga jarang2 gitu, atau malah mungkin belum pernah. Singkat cerita, pas mendarat di Timika itu pagi karena naik garuda belaiunya. Antara shock ngeliat bandaranya yang kanan kirinya masih banyak pepohonan (gak enak mau nyebut hutan) atau masih ngantuk, beliau turun pesawat dengan nolah-noleh sana-sini. Karena belum ada garbarata, maka di dekat tangga pesawat itu sudah ada bis jemputan untuk menuju pintu kedatangan. Beliau ini tidak mau naik, malah memilih jalan kaki. OK, saya pikir memang bapak ini pengen meregangkan otot-ototnya setelah hampir semalaman meringkuk di kursi pesawat.

“Bukan karena itu mas”. Katanya menyangkal.

“Lha kenapa, Pak, kok tidak naik bis saja?”

Si Bapak diem sejenak, dua jenak, tiga jenak.

“Kenapa pak ?” dengan sedikit menyentak.

“Itu kan bisnya ada tulisan PT. Freeport, mas. Lha saya kan bukan pegawai Freeport, emang boleh ya saya naik?”

Hmmm…. bener juga bapak ini. Mungkin memang saya yang sok kepedean dijemput bis saat turun dari pesawat. Lalu saya sungkem sama si bapak, bilang terimakasih tak terkira karena telah disadarkan dari ketidaktahuan diri.


 

Lalu ngomongin kehidupan di Timika ini, apalagi ya…. ini yang saya masih agak kurang ngerti. Dulu pas pertama dateng suka dinasehatin sama para senior. Kalo di Timika itu gak boleh telat makan. Nanti kena malaria. Lah, hubungannya apa coba malaria sama telat makan. Telat makan obat nyamuk gitu maksudnya?

Terus, ada juga yang menurut saya aneh, tapi ini mungkin karena kebiasaan berbahasa saja sih. Waktu itu ada seorang teman yg gak masuk kerja, besoknya saya tanya,

“Pace, kenapa kemarin gak masuk.”

“Aduh,,, Pace, saya kena malaria.”

“Oh, sudah periksa kah? Tropica kah Tertiana, positif berapa ? Menggigil? Mulut pahit ?”

“Ah tidak, saya istirahat saja dirumah, Cuma tidak enak badan saja.”

Oh ya ya ya…. saya menyimpulkan, kalo di jawa sekitar rumah saya ini penyakit disebut dgn masuk angin, di tempat lain mungkin disebut dengan meriang, tapi kalo di papua? Disebut malaria.


 

 Lalu kalau di Timika ini, ada beberapa jenis tempat tinggal. Khusus buat para pegawai di kantor saya yang kebanyakan perantauan ini, paling tidak bisa saya menggolongkannya menjadi tiga jenis tempat tinggal. Pertama, buat orang yang sudah ingin menetap di sini, mereka membangun atau membeli rumah di kota ini. Yang kedua, kalau yg masih ingin pindah, cukup kaya, cukup punya diut untuk dihambur-hamburkan dan belum mau investasi di sektor properti, mereka indekos atau mengontrak rumah petak. Lalu yang ketiga, ini pegawai yg beruntung banget nget nget nget sekali, mereka tinggal di mes. Kenapa beruntung, karena harga mengontrak rumah di sini cukup mahal. Bisa ditabung untuk naik haji, walaupun seringnya, belum terkumpul banyak sudah diambil lagi buat beli tiket mudik. Tinggal di mes ini gratis, hanya bayar iuran listrik bulanan, itupun dipotongkan dari uang makan. Kalau pembayaran uang makan telat, ya bayar listrik juga jadi telat, lalu listrik dicabut oleh PLN.

Saya ini kebetulan termasuk yang pernah merasakan menjadi kelompok kedua, cukup kaya untuk membayar kos-kosan tiap bulan, dan selalu tertib membayar tagihan listrik. Jadi alhamdulillah, di kosan saya listriknya gapernah dicabut. Tapi ada tidak enaknya sedikit kalau ngekos gitu, yaitu kalau tidak pinter mencari lokasi kos yg ok.  Saya, dulu tinggal di kosan belakang mes. Tak terlalu aman karena merupakan jalan pintas dari kampung menuju jalan raya. Jika  malam, sering banyak anak-anak aibon yang melintas. Kalau lewat biasa sih tak masalah. Masalahnya, mereka lewat sambil melihat-lihat situasi. Andai sepi, sendal jepit hilang, helm hilang, itu sudah biasa.

Pernah ada yang tertangkap, walaupun dari segerombolan yang berhasil ditangkap cuma satu. Seorang anak kecil usia belasan dihajar berramai-ramai oleh warga, diborgol di pohon jeruk ujung sana. Coba tebak apa yang dia dan gerombolannya coba curi? Mesin cuci ukuran besar. Haduh, mereka mungkin salah mabok. Jadi begini, nama aibon itu disematkan kepada mereka karena mereka terkenal suka mabuk dengan menggunakan sarana lem, merk Aika Aibon, pada tau kan? Jadi mungkin pas malam itu si anak-anak aibon itu ketika mau beroperasi, kebetulan lem aika aibonnya sedang habis. Mau beli tapi duit juga sedang tak punya. Sudah malam juga, warung sudah pada tutup. Salah satu dari mereka bingung lalu mengobrak-abrik tumpukan mainan adiknya yang masih TK, barangkali ada lem glukol, ternyata juga tidak ada. Sudah ditunggiun lama sama teman-temannya di luar. Si teman yang tidak sabaran akhrinya mencoba mencari dan menjemputnya ke dalam rumah, dicari-cari di kamar tidak ketemu, ketemunya di dapur.

“He tong !!!, Lagi ngapain lu tong ? Jadi kah tidak kita operasi, keburu pagi nih.” Sapa si penjemput.

“Sabar, saya lagi nge-lem.”

 “Ngelem apa, lah katanya tadi habis. Kok baunya seger gini lemnya. Apaan sih ? Bagi dong.”

Ketika menerima sodorannya, si-temennya ini bingung. Ini apa kok hijau-hijau begini, bau-baunya wangi enak. Dalam keremangan cahaya rembulan yang menerobos atap dapur yang bolong, perlahan terbaca tulisan di botol itu. MAMA LIME.

Misteri terpecahkan, mabuknya mama lime, nyurinya mesin cuci.

2 thoughts on “Tentang Timika Empat Tahun Ini”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *