Tentang Timika Empat Tahun Ini

Ngomong-ngomong tentang Timika, itu besar kaitannya dengan tempat saya bekerja. Ngomong masalah kerja dan tempatnya, dua hal itu berjodoh dalam satu hal bernama mutasi a.k.a. pindah tugas. Misalnya dulu tugas di Jawa, lalu mutasi ke Timika, lalu sekarang balik Jawa lagi. Walaupun kenyataannya tidak secepat kalau diucapkan seperti itu sih. Harusnya begini, dari Jawa, lalu ke Timika, lalu (berhenti ngomong sampai empat tahun) balik ke jawa lagi.

Saya pernah diceritain, oleh salah satu pegawai di kantor sini juga, tapi beliau sekarang sudah pindah, kembali mutasi ke jawa. Jadi, katanya beliau ini dulu pertama ke luar jawa ya ke Timika ini, naik pesawat juga jarang2 gitu, atau malah mungkin belum pernah. Singkat cerita, pas mendarat di Timika itu pagi karena naik garuda belaiunya. Antara shock ngeliat bandaranya yang kanan kirinya masih banyak pepohonan (gak enak mau nyebut hutan) atau masih ngantuk, beliau turun pesawat dengan nolah-noleh sana-sini. Karena belum ada garbarata, maka di dekat tangga pesawat itu sudah ada bis jemputan untuk menuju pintu kedatangan. Beliau ini tidak mau naik, malah memilih jalan kaki. OK, saya pikir memang bapak ini pengen meregangkan otot-ototnya setelah hampir semalaman meringkuk di kursi pesawat.

“Bukan karena itu mas”. Katanya menyangkal. Continue reading “Tentang Timika Empat Tahun Ini”