Hadiah Ulang Tahun Untuk Saya

Dalam lingkungan keluarga saya, juga di kampung tempat saya dibesarkan, hampir tidak dikenal istilah ulang tahun. Namun setidaknya ada satu hal yang bisa dimiripkan dengan peringatan ulang tahun ini. Peringatan kelahiran saya dan teman-teman sewaktu kecil dirayakan dengan acara bernama pamongan. Sebuah acara sederhana yang mengumpulkan para anak-anak kecil sepermainan di rumah anak lain yang weton-nya diperingati. Weton itu istilah jawa, artinya hari kelahiran, tapi bukan dalam artian diperingati setiap tahun seperti yang kita tahu sekarang dengan istilah ulang tahun. Weton itu persandingan antara hari-hari dalam kalender umum yaitu ahad, senin, selasa, rabu, dan seterusnya, disandingkan dengan hari-hari dalam penanggalan jawa yaitu pahing, pon, wage, kliwon dan legi. Hari dalam kalender umum berjumlah tujuh, sedang hari dalam penanggalan jawa berjumlah lima. Hal ini membuat satu siklus weton menjadi tiga puluh lima hari. Kata orang tua saya, saya lahir di hari senin dan bertepatan dengan hari pahing, artinya dalam tiga puluh lima hari kedepan akan bertemu hari senin pahing lagi, maka saat itulah pamongan pertama saya dilaksanakan.

Dalam acara pamongan, kami para anak-anak kecil dipanggil secara gethok tular, dari mulut ke mulut. Sepulang dari sekolah, kami berbondong-bondong menuju tempat acara. Jangan dibayangkan bahwa tempat acaranya seperti tempat pesta yang berhias kertas gantung berwarna-warni. Tidak juga saat kami datang lalu diberikan topi-topi kertas beraneka rupa. Atau, kami datang membawa kado masing-masing untuk diberikan kepada si-empunya weton. Tidak sama sekali. Atau di sana sudah siap terhidang kue tart bertahtakan sejumlah lilin menyala untuk ditiup, bukan. Hanya satu atau dua buah nampan berukuran besar yang di atasnya tersaji sego megono, dengan toping irisan telur ayam kampung.

Semua anak undangan berkumpul, lalu hidanganpun dido’akan. Selanjutnya, agar tidak rebutan, masing-masing anak yang datang akan mendapatkan jatah satu iris telur ini. Setelah semua dapat, maka kembulan pun dimulai. Kembulan berarti makan bersama-sama dalam satu nampan yang sama. Kami makan dengan lahap sekali, walaupun lebih sering porsi makanan ini tidak membuat kenyang karena jumlah anak yang datang melebihi perkiraan tuan rumah. Telur rebus yang sedianya dipotong menjadi empat pun bisa diperbanyak menjadi delapan bagian. Yang paling saya suka dari pamongan adalah bahwa di atas nampan di bawah daun pisang sebagai alas sego megono tadi, ada uang recehan yang siap kami perebutkan setelah kami selesai makan.

Uniknya, sebagai peringatan hari lahir, perayaan pamongan di hari weton ini tidak setiap saat dilaksanakan. Maksudnya, tidak di setiap senin pahing hari lahir saya diadakan pamongan untuk saya. Mungkin rutin hanya beberapa kali saja sejak saya lahir. Lalu entah kapan lagi diadakan, tergantung kondisi rejeki dan ingatan orang tua saja. Saat anak beranjak besar, pamongan beralih kepada nama yang sebenarnya menjadi selametan. Sebuah harapan dari kebahagiaan berbagi menjadi do’a-do’a yang dimakbulkan. Do’a keselamatan, harapan akan rejeki yang berkelimpahan hingga do’a spesifik berupa agar pintar dan rajin sekolah hingga kemudian hari menjadi wong pangkat, orang berpangkat tinggi. Tidak juga harus mengumpulkan anak-anak kecil datang untuk makan kembulan. Sesekali simbok hanya masak sego kluban dan beberapa lauk pauk untuk dibagikan ke tetangga sekitar.


 

Kemarin saya berulang tahun, lagi-lagi tidak dirayakan dengan pesta besar atau hanya sekedar pamongan. Dari sekian ucapan selamat dan do’a dari para rekan, tidak ada hadiah kado yang saya dapatkan. Tak mengapa karena saya sudah terbiasa dengan itu semua.

Ada yang tak biasa yang sengaja  saya buat di hari ulang tahun saya kemarin. Saya menghadiahi diri saya sendiri. Ya, saya membeli hadiah sebuah kacamata untuk diri saya sendiri. Kacamata yang membuat semuanya menjadi lebih jelas, kadang juga membuat sesuatu tampak lebih besar. Ketika saya ke toilet, saya semakin sadar bahwa saya adalah laki-laki. *krik krik krik*  . Saya punya tanggung jawab lebih besar untuk menjadi pemimpin, menjadi teladan. Kata si-penjualnya, kacamata ini juga bisa otomatis menjadi gelap jika terkena sinar matahari. Saya sudah mencobanya dan itu terbukti. Saya berharap, kacamata ini juga menjadikan saya untuk tak lagi silau dengan gemerlapnya dunia. Kemarin, ketika saya hendak mengeluarkan kartu ATM saya dari dompet untuk mengambil uang di sebuah anjungan tunai, tanpa sengaja saya melihat KTP saya, tangal lahir saya terlihat besar dan sangat jelas. Semakin terang bahwa hari itu makin berlalu, saya tak lagi muda, saya menua. Lalu sebelum saya memencet tombol selesai setelah mengambil uang, saya iseng mengecek saldo tabungan saya. Alhamdulillah, saya masih di dunia nyata, saldo saya tidak serta-merta membesar dengan saya melihatnya dari belakang kaca mata ini. Tulisannya memang membesar, tapi tidak dengan nominal-nya. Hufft…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *