Dejavu Itu Benar-Benar Nyata

Suatu sore yang basah, tak henti-hentinya hujan memberkah memberikan kedinginan yang menghunjam ke sumsum para perantauan. Segerombolan pemuda berniat menghabiskan malam sabtu yang panjang dengan bersenang-senang. Jumat ini benar-benar ceria, hingga mereka tak ingin mengakhirinya begitu saja.

Cerita ini hanya sebuah awal dari kisah malam panjang mereka. Sewajarnya pulang kerja  mereka kelaparan, maka mampirlah ke sebuah warung  “Lamongan” paling terkenal di seluruh penjuru kota. Di manapun mereka berada, canda tawa selalu terdengar, menghangatkan suasana kota yang dingin menjekut. Pramusaji datang memberikan daftar menu, canda tawa tak henti, mereka memesan beberapa menu tambahan  yang tak wajar. Ada yang minta ati amplanya digoreng setengah mateng, ada yang minta minumnya aqua botol padahal di situ jelas-jelas tak tersedia, alhasil pramusaji harus membelikannya di warung seberang jalan. Ada lagi yang minta terong lalapannya tak digoreng. Ok, pesanan datang, mari makan !

Sambelnya kurang, minta lagi. Krupuknya mana pak? Diambilkan.

Selese, mereka bayar, dan pasti tak hentinya mereka bercanda dengan pura-pura menawar harga.

Malam masih panjang, segerombolan pemuda itu pergi dari warung makan, tak lupa melambai-lambaikan tangan.

Sekira dua puluh menit kemudian, tanpa ganti pakaian mereka kembali lagi ke warung makan yang barusan, memesan makanan seperti orang wajar, bicara seperlunya, makan, bayar lalu pergi.

Dan benar, mereka hanya ingin membuktikan bahwa dejavu itu memang nyata, setidaknya bagi para pramusaji di warung makan “Lamongan” yang paling terkenal di seluruh penjuru kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *