Buah Aneh Ke(tidak)adilan

Alkisah di suatu perkampungan di sebuah pulau kecil yang sangat terpencil, semua warganya memiliki sifat kecanduan akan suatu buah. Keadaan yang ekstrim yang mungkin adalah klenik di pulau tersebut, mewajibkan penduduknya untuk memakan buah itu setiap hari, jika sehari saja tidak memakannya, maka nyawa bisa terancam. Sialnya, di pulau ini hanya tumbuh satu pohon saja yang berbuah aneh itu, entah kenapa. Untungnya dia berbuah sepanjang musim, namun kurang untungnya, dia berbuah tidak terlalu banyak, mungkin karena memang usianya yang sudah tua melebihi para tetua pulau ini. Pulau kecil yang subur, padi, buah, sayur, dan ragam tanaman lain menghasilkan panen yang lebat, masyarakat bisa hidup sejahtera di dalamnya. Pulau yang diberkati, katanya, tapi juga dikutuki karena jika ingin tinggal, orang-orang tak boleh lupa makan buah aneh itu barang seharipun. Namun berkatnya masih lebih besar daripada ancaman kutukannya. Orang jauh-jauh masih juga ada yang berdatangan untuk mencoba mencari penghidupan di sana. Perlahan tapi pasti, jumlah penduduk semakin bertambah oleh warga baru dan juga masyarakat asli yang beranak-pinak.

Mulanya semua warga mendapat jatahnya, satu buah satu orang setiap harinya dengan percuma. Namun ketika jumlah penduduk mulai berjibun, sang pemimpin kampung di pulau kecil itu mengambil keputusan bahwa mereka semua harus berbagi, setengah-setengah, atau yang lain akan mati karena kutukan. Aturan itu hanya menjadi wacana, karena kebetulan di saat yang bersamaan ada saudagar yang datang membawa kabar baik. Bahwa di pulau lain jauh di sana, terdapat pohon serupa yang menghasilkan buah yang menjadi kebutuhan utama warga di pulau ini. Tidak hanya membawa kabar gembira, dia bahkan juga membawa buah itu dalam jumlah yang cukup untuk menambah cadangan bagi warga pulau paling tidak untuk bertahan satu bulan. Memang tidak gratis, namun itulah kesadaran pendatang. Sebagian besar warga pendatang masih sangat menghormati adat setempat, mereka sadar bahwa mereka hanya nunut, numpang hidup. Ketika dalam kondisi seperti ini, ketika pohon aneh itu hanya berbuah cukup untuk setengah warga pulau, maka mereka tidak berebut. Seolah menjadi peraturan yang tidak tertulis bahwa warga asli mendapat prioritas, selebihnya kalo ada sisa maka akan dibagi ke pendatang dengan urutan yang lebih duluan datang. Warga pendatang yang tidak kebagian, mereka ikhlas mengeluarkan sepersepuluh hasil panen sawah dan ladangnya untuk berlangganan kiriman buah aneh dari saudagar di pulau yang jauh dari sana, setiap bulan.

Orang datang dan pergi, ada juga yang mati, jatah pembagian buah aneh silih berganti seiring siklus ini. Jika ada yang sedianya mendapat jatah namun lalu pergi, maka nama di daftar jatahnya akan langsung langsung terisi dengan nomor urut dibawahnya, begitu seterusnya sehingga masih sesuai dengan prioritas siapa yang datang duluan. Satu dua kecurangan, orang banyak masih tidak peduli. Kini semakin marak kecurangan itu, orang yang baru datang bisa mendapat jatah buah aneh dengan gratis, langsung menggantikan nama orang yang pergi tanpa melalui prosedur urutan. Sang pimpinan pulau rupanya juga mulai mengetahui, dia mengambil langkah tegas bahwa akan dilakukan pendataan ulang mengenai tanggal kedatangan, tentang kapan mereka para pendatang pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, lalu akan jelas siapa yang akan mendapatkan haknya dengan benar. Namun, seiring masuknya televisi, kebanyakan warga pulau telah begitu akrab dengan sebuah kata “pencitraan”, mereka pesimis akankah peraturan yang semula dijunjung tinggi ini akan tegak kembali, ataukah tetap ada pengecualian bagi orang dekat istana lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *