Ketika Sang Bujang Siap-siap Berlebaran

Lebaran sebentar lagi, tinggal menghitung hari. Beberapa orang masih tekun menjalani ibadah, sebagian lagi sudah mulai menambah kesibukan dengan persiapan mudik ke kampung halaman. Tak terkecuali kami para bujangan, ibadah tetap jalan, uhhuk, dan alhamdulillah tiket mudik sudah di tangan. Sesekali jalan-jalan ke mall melihat pemandangan, barangkali ada baju koko yang pas buat hari raya, barangkali pula kelancaran jodoh kami perlu ditunjang oleh pilihan yang tepat akan selera ber-fashion. Ya Allah, semoga Engkau memberi kekuatan dan kelancaran.

Di sela-sela tarawih malam sepuluh terakhir bulan ramadlan ini, setan mulai menggoda kami dengan ketakutan-ketakutan. Pada bacaan surat-surat yang panjang oleh imam, pikiran kami dibawa melayang, menerawang kepada kesibukan lebaran. Hari pertama selesai sholat Ied, sungkeman pada Ibu Bapak. Dalam keharuan yang dalam, tampak berkaca-kaca pandangan mereka, bisik do’a yang sedikit kudengar, ada harap mereka untuk segera menimang cucu dari kami para jomblowan. “Le, kakak-kakakmu sudah semua, kamu nunggu apa lagi?”

Allahu akbar, takbir imam memandu ruku’. Tak terlalu lama, namun cukup untuk menyelesaikan  peristiwa setelah sungkeman tadi. Berkeliling bersama para saudara dan tetangga, bersilaturrahim dengan orang sekampung. Satu-satu teman lama berjumpa, kami bersalaman dan tak lupa dia  membimbing anaknya. “Ayo, salim sama om”.

Raka’at berikutnya adalah hari kedua. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin. Arrahmaanirrahiim, dan kalimat berikutnya mulai sayup-sayup mengiringi lebaran pada hari ini, saat kunjungan ke Pakdhe, Budhe Paklik dan Bulik. Mereka telah beranjak renta, paling senang kalau bercerita. Anak-anaknya, diantaranya adalah sepupuku yang seusia denganku. Mereka mulai bercerita kalau si A lebaran ini tidak pulang karena istrinya sedang hamil tua, si B mungkin besok baru tiba di sini karena akan datang bersama keluarga besar istrinya, silaturrahim antar besan. Lalu si C, yang beberapa bulan lalu menikah diam-diam, hanya beberapa orang anggota keluarga saja yang diajak ke acara pernikahannya yang jauh di Kalimantan. Katanya mereka bertemu dan saling jatuh cinta saat kerja di Malaysia. Lebaran ini tak pulang, tidak dapat cuti katanya. Kemudian tiba-tiba sudah salam, pertanda habis raka’at kedua. Entah ruku’ dan sujudku tadi siapa yang membimbing. Astaghfirullah.

Untuk menjaga kekhusyu’an agar tak buyar lagi, aku memilih lebih menundukkan kepalaku lagi memandang pada sajadah yang terhampar. Lebih tepatnya adalah karpet panjang yang dikotak-kotak sedemikian rupa menyerupai sajadah. Berwarna krem bercorak hijau, bergambar masjid lengkap dengan menara di kanan kirinya. Lalu aku membandingkannya dengan sajadah kepunyaanku di rumah, lebih polos, hanya ada gambar kotak kecil, aku mengidentikkannya dengan ka’bah. Kadang dalam sujudku terbayang pula aku sedang mencium hajar aswad. Entah kapan aku bisa menghajikan kedua ibu bapakku. Lalu menabung lagi buat berhaji bersama istri dan anak-anakku, nanti.

Kemudian tarawihpun selesai, tentunya tak semua rakaatnya aku tergoda lamunan. Sebenarnya bacaan qur’an imam selalu memukau. Membuatku ingin menjadi seperti mereka, ya tahsin pun juga tahfidznya. Lalu diri ini terasa malu, semakin dalam aku malu ketika ingat beberapa keponakan di kampung sudah hafal sebagian besar juz 30. Tahun kemarin saja mereka sudah bisa pamer hafal surat An-Naba’. Lebaran ini pastilah mereka sudah mulai melahap juz 29. Kemana saja aku selama ini. Duapuluh tujuh tahun, juz tigapuluhpun belum beranjak. Seperti tahu kegalaun ma’mumnya, sang imam sedikit menghiburku dalam rakaat terakhir witirnya. Bagaikan anak kecil yang baru saja bisa menghafal, bibirku merapal lincah seiring suara merdu imam. Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas.

Witir selesai, lalu doa-doa berkumandang lagi dari imam, dan kami dengan sepenuh hati mengamininya. Tak lupa berniat puasa yang dilafalkan bersama-sama. Selesai rangkaian tarawih pada malam ini ditutup dengan bersalam-salaman antar jamaah, namun lebih sering aku hanya melakukannya dengan sebelah kanan dan kiriku saja, lalu cepat-cepat keluar masjid mencari sendal jepitku sebelum terinjak-injak dan terpisah kanan kirinya oleh kerumunan jamaah. Mungkin aku tak seharusnya seperti itu, akan lebih baik jika tadi aku ikut berdiri lalu bersalaman dengan imam, pak ustadz dan seluruh jamaah tarawih lainnya. Toh ini salaman singkat, dan pasti mereka tak sempat untuk menanyaiku dengan bermacam-macam hal. Pun juga tidak kenal. Tak seperti saat pertemuan keluarga di H+5 lebaran nanti.

Aku tak masalah harus ditanya macam-macam, aku hanya bosan saja ditanya seperti itu berulang-ulang. Dan aku tak mau menjadi jahat hanya karena ditanya demikian. “Kapan nikah?”. Pertanyaan yang bisa para jomblowan balikkan utk mengelak dari pertanyaan ‘kapan nikah’, alternatifnya adalah sebagai berikut:

  1. Jika yang bertanya masih bujangan juga,  maka coba balik tanya kapan dia akan menikah,
  2. Jika yang bertanya sudah menikah tapi belum punya anak, silakan balik tanya kapan dia akan  punya anak,
  3. Jika sudah punya anak, tanyakan padanya kapan dia akan menambah anak lagi,

Jika yang bertanya adalah orang sudah tua, sudah menikah, sudah punya banyak anak, sudahlah, Anda jangan balik tanya apa-apa, cukup minta doa saja.
Karena pada hal sesungguhnya, barisan pertanyaan yang ada dalam fikiran setiap insan kepada insan lainnya adalah sebuah siklus kehidupan.Dengan asumsi bahwa Anda adalah lelaki yang sudah disunat, maka pertanyaan mengenai siklus itu adalah “kapan akan menikah, kapan akan punya anak, kapan akan punya anak lagi, kapan akan menikah lagi dan kapan akan mati”.

#cerita ini adalah fiktif belaka. mau dibikin cerpen tapi gagal… jadinya ya buat postingan ngasal aja.

3 thoughts on “Ketika Sang Bujang Siap-siap Berlebaran”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *