Paniai Yang Jauh, Enaro Yang Dingin

lanskap

Pagi itu sedikit gerimis. Kami cemas apakah akan mendapat penerbangan atau tidak. Ya, kami serombongan sudah berada di Bandara Mozes Kilangin, bermaksud akan menumpang pesawat kecil menuju kabupaten tetangga. Memang beginilah di Papua, kadang hanya untuk pergi ke kecamatan sebelah saja harus dengan pesawat, terlebih lagi jika ingin ke kabupaten lain atau ke ibu kota propinsi sana.

Lebih cemas lagi karena kami belum memegang tiket. Sebenarnya tidak sungguh-sungguh go show,  kami sudah memesan tiket  pada salah seorang petugas maskapai yang sudah kami hubungi sebelumnya. tapi ini bulan Desember, peak season, saatnya penumpang berebut mendapat tempat duduk yang terbatas. Bahkan saking ramainya permintaan akan kebutuhan penerbangan menjelang natal ini, ada program khusus bernama christmas flight untuk memberi kemudahan bagi masyarakat agar bisa merayakan natal di kampung halaman. Program ini menyita terminal di bandara perintis, menjadikan kami, penumpang reguler, harus menyingkir ke terminal sementara di dekat landas pacu, hanya beratapkan tenda. Cuaca yang tak kunjung cerah ini kami menjadi semakin ragu.

Ini ketiga kalinya saya ke sana, selalu dalam rangka pekerjaan. Siapa juga orang kantor saya yg mau ke Kabupaten Paniai kalau tidak punya kepentingan berupa melaksanakan tugas. Tapi lalu saya sadar, bahwa kepentingan itu tak melulu tuntutan pekerjaan. Di sana ada danau, tak tangung-tanggung jumlahnya, tiga. Continue reading

“Siang Itu…”

Pukul satu siang itu, udara kota ini sungguh panas luar biasa. Matahari sudah condong ke barat, namun derajat kemiringannya tidak terlalu signifikan untuk menggelincirkannya ke balik gunung. Jalanan tampak mengeluarkan bayang-bayang asap seperti sedang menguapkan aspalnya. Lengang. Sesekali melintas mobil dengan kecepatan tinggi. Kadang pula lewat motor ojek yang pengemudinya menolah-noleh kanan-kiri menyelusupkan matanya ke lorong-lorong gang mencari penumpang.
Nihil, semua orang sedang berteduh di rumahnya, dibuai dinginnya penyejuk ruangan yang diatur pada suhu serendah mungkin. Atau bagi masyarakat lain yang berkeberatan membayar iuran listrik bulanan, cukuplah hanya ditemani kipas angin yang berputar-putar bergeleng-geleng dengan suara berisik yang mengganggu. Suara dengung yang lama-lama menjadi senandung nina bobo pengantar menuju mimpi majikan di tengah hari.

Ada yang salah dengan hari ini, matahari terlalu terik menyinari. Entah kemana pula mendung-mendung yang biasanya memayungi. Walaupun aku juga sudah bisa menebak, bahwa mereka pasti akan datang sore nanti. Sejak beberapa tahun lalu aku menginjakkan kaki di kota ini, polanya memang begitu. Jika siang hari ini panas terik, sore nanti atau paling telat malam nanti, hujan pasti turun dengan derasnya. Teori bodohku ini rupanya tak terlalu buruk. Aku pernah membaca sebuah berita di koran lokal yang  menyebutkan bahwa kota ini memang tak mengenal musim penghujan maupun kemarau. Jadi, kalau panas ya panas saja, lalu jika tiba-tiba mau hujan, ya monggo terserah. Itu di luar kewenangan badan meteorologi, klimatologi dan geofisika. Pernah juga aku ikut menengok peta di internet sebelum handphone cinaku yang agak canggih itu hilang, bahwa kota ini tak terlihat lebih besar daripada area hutan yang terpaksa tergunduli menjadi area pembuangan limbah tambang itu. Wajarlah kalau cuaca menjadi tak jelas seperti ini. Continue reading

Tentang Timika Empat Tahun Ini

Ngomong-ngomong tentang Timika, itu besar kaitannya dengan tempat saya bekerja. Ngomong masalah kerja dan tempatnya, dua hal itu berjodoh dalam satu hal bernama mutasi a.k.a. pindah tugas. Misalnya dulu tugas di Jawa, lalu mutasi ke Timika, lalu sekarang balik Jawa lagi. Walaupun kenyataannya tidak secepat kalau diucapkan seperti itu sih. Harusnya begini, dari Jawa, lalu ke Timika, lalu (berhenti ngomong sampai empat tahun) balik ke jawa lagi.

Saya pernah diceritain, oleh salah satu pegawai di kantor sini juga, tapi beliau sekarang sudah pindah, kembali mutasi ke jawa. Jadi, katanya beliau ini dulu pertama ke luar jawa ya ke Timika ini, naik pesawat juga jarang2 gitu, atau malah mungkin belum pernah. Singkat cerita, pas mendarat di Timika itu pagi karena naik garuda belaiunya. Antara shock ngeliat bandaranya yang kanan kirinya masih banyak pepohonan (gak enak mau nyebut hutan) atau masih ngantuk, beliau turun pesawat dengan nolah-noleh sana-sini. Karena belum ada garbarata, maka di dekat tangga pesawat itu sudah ada bis jemputan untuk menuju pintu kedatangan. Beliau ini tidak mau naik, malah memilih jalan kaki. OK, saya pikir memang bapak ini pengen meregangkan otot-ototnya setelah hampir semalaman meringkuk di kursi pesawat.

“Bukan karena itu mas”. Katanya menyangkal. Continue reading

Hadiah Ulang Tahun Untuk Saya

Dalam lingkungan keluarga saya, juga di kampung tempat saya dibesarkan, hampir tidak dikenal istilah ulang tahun. Namun setidaknya ada satu hal yang bisa dimiripkan dengan peringatan ulang tahun ini. Peringatan kelahiran saya dan teman-teman sewaktu kecil dirayakan dengan acara bernama pamongan. Sebuah acara sederhana yang mengumpulkan para anak-anak kecil sepermainan di rumah anak lain yang weton-nya diperingati. Weton itu istilah jawa, artinya hari kelahiran, tapi bukan dalam artian diperingati setiap tahun seperti yang kita tahu sekarang dengan istilah ulang tahun. Weton itu persandingan antara hari-hari dalam kalender umum yaitu ahad, senin, selasa, rabu, dan seterusnya, disandingkan dengan hari-hari dalam penanggalan jawa yaitu pahing, pon, wage, kliwon dan legi. Hari dalam kalender umum berjumlah tujuh, sedang hari dalam penanggalan jawa berjumlah lima. Hal ini membuat satu siklus weton menjadi tiga puluh lima hari. Kata orang tua saya, saya lahir di hari senin dan bertepatan dengan hari pahing, artinya dalam tiga puluh lima hari kedepan akan bertemu hari senin pahing lagi, maka saat itulah pamongan pertama saya dilaksanakan.

Continue reading

Ketika Sang Bujang Siap-siap Berlebaran

Lebaran sebentar lagi, tinggal menghitung hari. Beberapa orang masih tekun menjalani ibadah, sebagian lagi sudah mulai menambah kesibukan dengan persiapan mudik ke kampung halaman. Tak terkecuali kami para bujangan, ibadah tetap jalan, uhhuk, dan alhamdulillah tiket mudik sudah di tangan. Sesekali jalan-jalan ke mall melihat pemandangan, barangkali ada baju koko yang pas buat hari raya, barangkali pula kelancaran jodoh kami perlu ditunjang oleh pilihan yang tepat akan selera ber-fashion. Ya Allah, semoga Continue reading